Surabaya, bloknesia.net – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta pengelola pusat perbelanjaan di Kota Pahlawan untuk tidak meninggikan pagar di area mal. Menurutnya, selain tidak diperlukan, pagar yang terlalu tinggi dapat merusak estetika bangunan dan menimbulkan kesan kurang aman.
Eri mengungkapkan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan sejumlah pengelola mal di Surabaya. Dalam pertemuan tersebut, ia menyarankan agar tinggi pagar tetap disesuaikan dan tidak berlebihan.
“Ketika ada pagar, saya ingin orang yang berjalan tetap merasa nyaman dan terang. Jangan terlalu tinggi sehingga mencerminkan rasa takut, padahal Surabaya ini aman,” kata Eri, Rabu (5/7).
Meski demikian, Eri menegaskan bahwa Pemerintah Kota Surabaya tidak meminta pengelola untuk membongkar pagar yang sudah terpasang. Ia hanya mengimbau agar ketinggian pagar dapat diturunkan.
“Tidak semua mal seperti itu, hanya dua atau tiga saja. Jadi bukan pembongkaran, tapi penyesuaian,” ujarnya.
Eri juga menepis anggapan bahwa pembangunan pagar dilakukan untuk mengantisipasi potensi aksi massa. Ia menjelaskan, pagar dibangun lebih pada aspek keamanan pengunjung.
Salah satu contohnya terjadi di kawasan Tunjungan Plaza. Menurut Eri, masih banyak pengunjung yang menyeberang sembarangan di Jalan Basuki Rahmat, sehingga membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.
“Sering kami tegur agar tidak menyeberang di depan Tunjungan Plaza, karena sudah ada jembatan penyeberangan orang (JPO),” jelasnya.
Ia menambahkan, pihak pengelola mal memasang pagar untuk mengarahkan arus keluar-masuk pengunjung agar lebih tertib dan mudah dipantau. Namun, ia kembali mengingatkan agar desain pagar tetap mempertimbangkan kenyamanan visual.
Selain itu, Dinas Perhubungan Surabaya juga telah memasang barrier beton di Jalan Basuki Rahmat guna mencegah pejalan kaki menyeberang sembarangan. Penggunaan material beton dipilih karena dinilai lebih kokoh dibandingkan pembatas plastik yang mudah bergeser.
Sementara itu, fenomena pemasangan pagar tinggi di sejumlah mal belakangan menjadi perbincangan di media sosial. Beberapa warganet mengaitkannya dengan isu perlambatan ekonomi.
Di Surabaya, sejumlah mal yang berada di bawah pengelolaan Pakuwon Group diketahui memasang pagar di area sekelilingnya, antara lain Pakuwon Mall, Royal Plaza, Pakuwon City Mall, dan Tunjungan Plaza.
Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi, membantah bahwa pemasangan pagar berkaitan dengan kondisi ekonomi maupun situasi sosial-politik.
“Tidak ada antisipasi apa pun. Kami yakin Indonesia aman dan sejahtera,” kata Sutandi, Jumat (17/7).
Ia menegaskan, kinerja bisnis Pakuwon Group justru menunjukkan tren positif pada semester pertama 2026. Hal itu, menurutnya, dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan yang terbuka untuk publik.
“Kalau ekonomi tidak baik, justru kami tidak akan berada dalam kondisi yang bagus seperti sekarang,” ujarnya.
Sutandi menjelaskan, pemasangan pagar semata-mata bertujuan untuk keamanan, sebagaimana fungsi pagar pada umumnya.
“Seperti rumah, pagar itu untuk keamanan. Bukan berarti ada ancaman tertentu, tapi sebagai langkah antisipatif,” jelasnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan, pagar di sejumlah mal memiliki ketinggian bervariasi, berkisar antara 2,5 hingga 3 meter dengan material besi dan beton.
Pemerintah Kota Surabaya berharap, ke depan pengelola mal dapat menyeimbangkan aspek keamanan dengan estetika kota, sehingga tetap menciptakan ruang publik yang nyaman bagi masyarakat.
