Bloknesia.net – Anggota Komisi IX DPR RI Sri Meliyana mengapresiasi bergabungnya Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Ia menilai, kehadiran Rocky Gerung dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak semestinya dipandang sebagai perubahan sikap politik, khususnya oleh pihak-pihak yang selama ini mengenalnya sebagai sosok kritis.

Sri Meliyana mengatakan, Rocky Gerung telah lama memiliki pandangan kritis terhadap pemerintahan. Menurut dia, sikap tersebut tidak berarti Rocky akan selalu berada dalam posisi oposisi terhadap siapa pun yang menjadi presiden.

“Sejak saya di Gerindra, Rocky Gerung sudah berjuang bersama kami untuk mendampingi Prabowo berjuang di Pilpres. Di 2018 Prabowo kalah dan kemudian kami lanjut berjuang di 2024,” kata Sri Meliyana.

Ia menjelaskan, ketika Presiden Joko Widodo memimpin pemerintahan, Rocky Gerung banyak menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan dan situasi yang berkembang saat itu.

Namun, menurut Sri Meliyana, situasi politik berubah setelah Prabowo Subianto terpilih sebagai Presiden RI. Ia menilai, kritik yang disampaikan Rocky Gerung saat ini tidak harus dimaknai sebagai bentuk oposisi terhadap pemerintahan.

“Semua kritiknya adalah terhadap sesuatu yang memang harus disampaikannya. Maka bukan sesuatu yang mengherankan kalau Rocky menjadi Wantimpres, seseorang yang akan terus memberikan pertimbangan kepada Presiden. Pendapatnya diperlukan untuk kritik yang konstruktif,” ujarnya.

Sri Meliyana menilai kritik dan oposisi merupakan dua hal yang dapat dibedakan. Menurut dia, perbedaan pandangan tidak selalu harus berujung pada pertentangan, tetapi dapat menjadi bagian dari proses untuk menghasilkan kebijakan yang lebih baik.

“Oposisi itu adalah terhadap pandangan yang berbeda, tapi ketika pandangan sama maka arahnya adalah pandangan kritis konstruktif, sama-sama bergerak ke arah yang lebih baik dan bijak,” katanya.

Ia menegaskan, kurang tepat apabila Rocky Gerung dipandang sebagai sosok yang akan selalu beroposisi terhadap siapa pun yang menjadi presiden.

“Alangkah naifnya kalau kita berpandangan bahwa Rocky Gerung akan beroposisi terhadap siapa saja yang jadi presiden,” tegas Sri Meliyana.

Menurutnya, kehidupan politik maupun bermasyarakat membutuhkan sikap bijak dalam menyikapi perbedaan. Memiliki perbedaan pandangan tidak berarti harus menjadikan semua pihak sebagai lawan.

“Dalam hidup yang bijak, meskipun kita ada lawan, lebih baik kita juga punya banyak kawan. Berani itu bukan berarti semua bisa kita lawan, tapi seberapa besar kemampuan kita meluruskan kehidupan,” tuturnya.

Sri Meliyana juga mengingatkan masyarakat agar lebih dewasa dalam menyerap dan menyebarkan informasi, terutama di tengah derasnya arus informasi di era digital.

Menurutnya, kemampuan literasi menjadi penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum diketahui kebenarannya.

“Kita semua hidup di era digital. Sangat diperlukan kedewasaan menyerap sesuatu. Itulah yang disebut kemampuan literasi,” ujarnya.

Ia mengingatkan, masyarakat terkadang belum mengetahui persoalan secara utuh maupun kebenaran sebuah informasi, tetapi sudah ikut menyebarkannya melalui berbagai platform digital.

Karena itu, Sri Meliyana mengajak masyarakat untuk menjaga suasana yang kondusif, baik di daerah maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Oleh karena itu, mari lebih baik memelihara Lahat yang kondusif, Indonesia yang teduh. Daripada menghabiskan karunia waktu yang diberikan kepada kita untuk menjadikan Lahat berisik dan Indonesia yang gampang diadu,” pungkasnya.