Bandarlampung, bloknesia.net — Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela menyatakan hilirisasi singkong menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing ekonomi daerah.

“Kami terus mematangkan langkah strategis untuk memperkuat sektor industri pengolahan, khususnya melalui program hilirisasi komoditas pertanian unggulan,” kata Jihan di Bandarlampung, Jumat.

Menurutnya, ubi kayu atau singkong merupakan salah satu komoditas utama yang selama ini menopang perekonomian Lampung sehingga perlu mendapatkan perhatian serius dalam pengembangannya.

Ia menilai Lampung memiliki potensi besar untuk mendorong hilirisasi, didukung posisi geografis yang strategis serta infrastruktur yang memadai.

“Sebagai gerbang Pulau Sumatera, Lampung didukung konektivitas jalan Tol Trans-Sumatera, pelabuhan, kereta api, transportasi darat, Bandara Raden Inten, serta berbagai industri pengolahan yang terus berkembang,” ujarnya.

Berdasarkan data makro tahun 2025, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung tercatat mencapai Rp523 triliun, dengan sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar kedua sebesar 19,11 persen setelah sektor pertanian.

Meski demikian, Jihan mengakui bahwa pengembangan industri pengolahan di daerahnya masih menghadapi sejumlah tantangan.

Ia menyebutkan, banyak komoditas pertanian yang belum diolah secara optimal di dalam daerah sehingga nilai tambah bagi petani dan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) belum maksimal.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Lampung memprioritaskan hilirisasi singkong, mengingat daerah tersebut merupakan produsen ubi kayu terbesar di Indonesia dengan produksi lebih dari 7,5 juta ton pada 2025.

“Kami jauh lebih optimis. Pada awal masa jabatan, permasalahan fluktuasi harga ubi kayu di Lampung merupakan salah satu tantangan terbesar yang kami hadapi. Namun, berkat intervensi kebijakan dari gubernur melalui peraturan gubernur (Pergub), mitigasi yang terkoordinasi dengan pemerintah pusat, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan, harga ubi kayu saat ini jauh lebih baik dan stabil,” jelasnya.

Ia menambahkan, upaya tersebut juga mendapat perhatian dari Wakil Presiden RI dalam rangka menjaga stabilitas harga dan mendukung keberlanjutan sektor pertanian.

Ke depan, Pemprov Lampung bersama pemerintah pusat dan para pemangku kepentingan berencana mengembangkan cassava center sebagai pusat riset singkong pertama di Indonesia.

Selain itu, pemerintah daerah juga menjalin kerja sama dengan PTPN Regional VII untuk menyiapkan lahan pembangunan pabrik bioetanol sebagai bagian dari hilirisasi.

“Hilirisasi singkong tidak boleh hanya dipandang sebagai upaya meningkatkan produksi, melainkan sebagai strategi membangun nilai tambah melalui penyediaan produk pangan, bahan baku industri, hingga sumber energi,” pungkas Jihan Nurlela.

Ia berharap langkah tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat sektor IKM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung yang lebih berkelanjutan.