MALANG, bloknesia.net – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Jawa Timur, melakukan inovasi dalam pengelolaan sampah dengan memanfaatkan bakteri dari limbah susu untuk menekan kadar gas metan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya mitigasi kebakaran yang kerap dipicu oleh tingginya kandungan gas metan di area penampungan sampah.
Pelaksana harian Kepala DLH Kota Malang, Gamliel Raymond Hatigoran, mengatakan bakteri dari limbah susu tersebut digunakan dalam bentuk cair sehingga mudah diaplikasikan di lapangan.
“Kebakaran TPA salah satunya disebabkan tingginya gas metan. Upaya yang kami lakukan adalah menggunakan bakteri dari limbah susu untuk menekan kadar metan,” ujarnya, Senin.
Penyemprotan cairan bakteri dilakukan secara rutin dua kali dalam sepekan di area TPA Supit Urang yang memiliki luas sekitar delapan hektare.
Menurut Gamliel, langkah ini menjadi solusi alternatif di tengah keterbatasan alat penghisap gas metan yang sebelumnya rusak akibat kebakaran beberapa tahun lalu.
“Dulu gas metan dimanfaatkan, tetapi setelah kebakaran sekitar empat sampai lima tahun lalu, alatnya ikut terbakar,” jelasnya.
Selain penyemprotan bakteri, DLH Kota Malang juga melakukan sejumlah langkah lain untuk menekan potensi kebakaran. Di antaranya adalah pengurukan tanah untuk menimbun sampah guna mengurangi produksi gas metan.
Petugas juga secara rutin melakukan penyiraman di area TPA untuk menurunkan suhu, terutama saat musim kemarau yang rawan memicu panas berlebih.
Tak hanya itu, pengaturan waktu pengiriman sampah ke TPA juga diterapkan untuk mengendalikan penumpukan yang dapat meningkatkan risiko kebakaran.
Berdasarkan data DLH Kota Malang, volume sampah harian di wilayah tersebut mencapai sekitar 860 ton, dengan sekitar 500 ton di antaranya masuk ke TPA Supit Urang setiap hari.
Untuk mengantisipasi lonjakan volume sampah, DLH Kota Malang juga mengoptimalkan pengelolaan di tingkat hulu melalui berbagai fasilitas. Di antaranya lima Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R), satu TPS Terpadu, 370 bank sampah, 22 Rumah Pilah Kompos dan Daur Ulang (PKD), serta dua Pusat Daur Ulang (PDU).
Langkah terpadu ini diharapkan mampu menekan volume sampah yang masuk ke TPA sekaligus meminimalkan potensi risiko kebakaran akibat gas metan.
