JAKARTA, Bloknesia.net – Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menyebut banyak tokoh menginginkan adanya perbaikan dan pembaruan di tubuh Nahdlatul Ulama menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 pada Agustus 2026 mendatang.
“Kita tunggu muktamar. Tapi saya sudah ketemu semua tokoh, semua ingin perbaikan dari kegagalan kepemimpinan yang ada. Maka mutlak pembaharuan,” ujar Cak Imin kepada wartawan, Sabtu (18/7/2026).
Menurutnya, aspirasi tersebut disampaikan kepadanya karena terbatasnya ruang untuk menyuarakan pendapat di internal organisasi. Ia mengaku diminta berbagai pihak untuk menyampaikan keinginan perubahan tersebut.
“Saya sebagai kader diminta menyuarakan ini oleh banyak pihak, karena tidak ada ruang untuk menyampaikan. Kesempatannya ada di saya,” jelasnya.
Cak Imin menegaskan, dorongan perbaikan itu akan terus disuarakan melalui momentum Muktamar, termasuk dengan mendorong pergantian pengurus baru di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
“Maka saya terus menyampaikan suara keinginan perubahan dan perbaikan PBNU melalui pergantian pengurus baru yang benar-benar di luar pengurus hari ini,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf memastikan persiapan Muktamar ke-35 NU telah memasuki tahap akhir. Ia menyebut berbagai kendala yang sebelumnya dikhawatirkan telah berhasil diatasi.
“Saya bisa katakan bahwa semua orang boleh tenang karena insyaallah persiapan-persiapan sudah dilakukan dengan baik. Hal-hal yang dikhawatirkan sebetulnya sudah enggak ada lagi,” ujar Gus Yahya, Rabu (15/7/2026).
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Pemilihan lokasi tersebut dinilai memiliki nilai historis karena pesantren itu didirikan oleh salah satu pendiri NU, KH Abdul Wahab Hasbullah.
Gus Yahya meyakini pelaksanaan Muktamar di Tambakberas akan menghadirkan suasana kondusif sehingga forum tertinggi organisasi itu dapat berjalan lancar.
Ia berharap Muktamar ke-35 NU mampu menghasilkan keputusan yang membawa maslahat, tidak hanya bagi warga Nahdlatul Ulama, tetapi juga bagi bangsa Indonesia dan kemanusiaan secara luas.
