JAWA TIMUR, bloknesia.net – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur bersama Kadin Institute membuka peluang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk memasuki dunia kerja melalui pelatihan pelayanan prima atau service excellence.
Program yang digelar bersama Plan International tersebut berlangsung selama empat hari dan diikuti sekitar 280 peserta, termasuk penyandang disabilitas, khususnya tunanetra.
Direktur Kadin Institute Nurul Indah Susanti mengatakan program tersebut tidak berhenti pada pemberian pelatihan. Peserta juga akan diarahkan mendapatkan pengalaman melalui program magang sehingga kompetensi yang diperoleh dapat diterapkan secara langsung di lingkungan kerja.
“Program tidak berhenti pada pelatihan karena peserta nantinya akan mendapatkan kesempatan magang agar kompetensi yang diperoleh dapat diterapkan secara langsung di dunia kerja,” kata Indah dalam keterangan di Surabaya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan sejumlah materi, antara lain digital marketing, service excellence, administrasi ritel, administrasi dasar, hingga literasi finansial.
Menurut Indah, pelatihan selama empat hari menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi yang dapat terus dikembangkan. Salah satu kemampuan yang dinilai menonjol adalah komunikasi dan kemampuan berbicara.
Karena itu, Kadin Institute berencana memberikan pendalaman materi public speaking bagi peserta penyandang disabilitas. Materi tersebut diharapkan semakin memperkuat kemampuan komunikasi mereka sebelum memasuki dunia kerja.
Selain pelatihan, Kadin Institute juga tengah membuka akses pemagangan bagi 20 peserta penyandang disabilitas di sejumlah stasiun radio.
Indah mengatakan kemampuan yang ditunjukkan peserta selama pelatihan menjadi gambaran bahwa kondisi fisik tidak semestinya menjadi penghalang bagi seseorang untuk mengembangkan kompetensi dan berkontribusi di dunia kerja.
“Potensi yang mereka miliki perlu diberikan ruang untuk berkembang,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto mengatakan program tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya kesempatan kerja yang lebih setara bagi penyandang disabilitas.
Menurut Adik, penguatan kompetensi peserta juga akan diarahkan pada sertifikasi. Kadin Institute diketahui memiliki kerja sama dengan LSP Public Relations Nusantara sehingga kompetensi peserta dapat dikembangkan dan disertifikasi sesuai kebutuhan dunia kerja.
Bagi peserta, pelatihan tersebut tidak sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membangun kepercayaan diri dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
Hal itu dirasakan Fadlakal Jamal Aswar, penyandang disabilitas tunanetra asal Surabaya yang tergabung dalam Komunitas Mata Hati.
Jamal mengatakan dirinya sebelumnya telah mengikuti sejumlah pelatihan. Namun, materi pelayanan prima yang diberikan dalam program tersebut memberikan pengetahuan baru yang dinilai lebih aplikatif dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika berhadapan dengan masyarakat.
Menurut dia, sejumlah materi yang disampaikan sebenarnya berangkat dari hal-hal sederhana. Namun, materi tersebut menjadi penting ketika diterapkan dalam konteks pelayanan kepada orang lain.
Bagi penyandang tunanetra, salah satu tantangan dalam berkomunikasi adalah memperoleh informasi visual seperti ekspresi wajah dan bahasa tubuh.
“Body language dan ekspresi itu kami tidak bisa mendapatkan input dari melihat. Itu menjadi pekerjaan rumah bagi kami. Kesulitan kami adalah bagaimana membaca ekspresi dan body language. Senyum adalah fondasi dari pelayanan prima,” kata Jamal.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap pelatihan, pengalaman kerja, dan sertifikasi dapat menjadi bagian penting dalam membuka kesempatan yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Melalui program pelatihan dan pemagangan tersebut, Kadin Jatim dan Kadin Institute berupaya menjembatani kompetensi peserta dengan kebutuhan dunia kerja, sekaligus mendorong lingkungan kerja yang memberikan kesempatan secara lebih inklusif.
