BANDA ACEH, bloknesia.net – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menetapkan tiga fokus utama dalam pengelolaan sektor minyak dan gas bumi (migas) di Aceh. Ketiganya mencakup peningkatan lifting migas, optimalisasi sumur tua dan sumur masyarakat, serta memperluas keterlibatan pengusaha lokal dan sumber daya manusia (SDM) Aceh.
Kepala BPMA Mawardi Nur mengatakan, pengelolaan migas di Aceh tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga harus memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat dan daerah.
“Pengelolaan migas tidak hanya berbicara mengenai produksi dan lifting, tetapi juga bagaimana sektor ini memberikan ruang lebih luas bagi pengusaha lokal dan memperkuat sumber daya manusia Aceh,” kata Mawardi Nur di Banda Aceh, Senin.
Pernyataan tersebut disampaikan Mawardi dalam kegiatan serah terima jabatan (sertijab) Kepala BPMA dari Nasri Djalal kepada dirinya di Kantor BPMA, Banda Aceh.
BPMA Dorong Peningkatan Lifting Migas
Mawardi mengatakan, peningkatan lifting migas menjadi salah satu prioritas BPMA. Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi produksi dari lapangan eksisting, percepatan pengembangan lapangan baru, pemanfaatan teknologi yang efektif, serta penguatan sinergi dengan seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
Menurut dia, peningkatan lifting merupakan salah satu indikator penting dalam mendukung ketahanan energi sekaligus meningkatkan kontribusi sektor hulu migas terhadap penerimaan negara.
“Peningkatan lifting merupakan salah satu indikator penting dalam mendukung ketahanan energi sekaligus meningkatkan kontribusi sektor hulu migas terhadap penerimaan negara,” ujarnya.
Optimalisasi Sumur Tua dan Sumur Masyarakat
Fokus kedua BPMA adalah mengoptimalkan potensi sumur tua dan sumur masyarakat di Aceh.
BPMA akan mendorong pengembangan ekosistem sumur tua dan sumur masyarakat dengan tetap mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) Nomor 14 Tahun 2025.
Pengelolaan sumur tersebut, kata Mawardi, harus memperhatikan aspek legalitas, keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, produktivitas, serta kepastian hukum.
Dengan pendekatan tersebut, potensi sumur tua dan sumur masyarakat diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus mendukung perekonomian daerah.
Pengusaha Lokal dan SDM Aceh Diperkuat
Fokus ketiga adalah memperkuat peran pelaku usaha lokal dan SDM Aceh dalam rantai bisnis industri hulu migas.
Mawardi menyatakan BPMA akan membuka ruang yang lebih luas bagi pengusaha lokal untuk terlibat dalam kegiatan industri migas. Di sisi lain, peningkatan kapasitas SDM Aceh juga akan didorong agar mampu mengambil peran lebih besar dalam sektor tersebut.
BPMA juga menyatakan komitmennya untuk membuka ruang investasi dan kerja sama di sektor hulu migas dengan tetap mengedepankan tata kelola yang baik.
“Kita ingin mengirimkan pesan yang jelas bahwa Aceh adalah wilayah yang layak, aman, dan menarik untuk berinvestasi di sektor hulu migas,” kata Mawardi.
Target Lifting Migas Aceh 2026
Sejalan dengan fokus tersebut, BPMA menargetkan lifting migas di wilayah kerja Aceh pada 2026 mencapai 10.519 BOEPD (barrel of oil equivalent per day).
Target tersebut lebih tinggi dibandingkan target tahun sebelumnya sebesar 9.625 BOEPD yang berasal dari produksi gas sebesar 44,58 MMSCFD dan kondensat 1.665 BOPD.
Namun, realisasi lifting pada tahun sebelumnya tercatat 9.060 BOEPD, terdiri atas produksi gas sebesar 41,40 MMSCFD dan kondensat 1.667 BOPD.
Gubernur Aceh Dorong Keberlanjutan Pengelolaan Migas
Dalam kegiatan sertijab tersebut, Gubernur Aceh melalui Asisten II Setda Aceh Robby Irza berharap Mawardi Nur dapat menjalankan amanah sebagai Kepala BPMA dengan baik.
Menurut Robby, pergantian kepemimpinan di BPMA merupakan bagian dari keberlanjutan pengelolaan sektor migas di Aceh.
Pergantian tersebut juga dinilai sebagai momentum untuk melanjutkan berbagai program yang telah dibangun oleh kepemimpinan sebelumnya.
“Mari kita bersama-sama melanjutkan hal-hal baik yang telah dibangun selama ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan, kekuatan, dan keberkahan dalam menjalankan amanah ini,” kata Robby.
Dengan tiga fokus tersebut, BPMA menempatkan peningkatan produksi dan lifting, pengelolaan potensi sumur tua serta sumur masyarakat, dan penguatan keterlibatan pelaku usaha serta SDM lokal sebagai bagian dari arah pengelolaan hulu migas Aceh ke depan.
