Surabaya, bloknesia.net — Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya dugaan kasus kekerasan seksual yang menyeret salah satu finalis ajang Raka Raki Jawa Timur 2026 berinisial TFR. Informasi tersebut viral di berbagai platform, termasuk Instagram dan X (Twitter), sejak akhir pekan.

Akun Instagram @ingintauindonesia mengunggah tangkapan layar percakapan yang diduga melibatkan terlapor dengan seorang perempuan yang disebut sebagai pasangannya. Dalam unggahan tersebut, terdapat percakapan yang mengarah pada dugaan permintaan untuk menggugurkan kandungan.

Dalam keterangan unggahan itu juga disebutkan bahwa perempuan yang mengaku sebagai korban menyampaikan pengalamannya melalui media sosial. Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak terlapor terkait kebenaran informasi tersebut.

Menanggapi kabar yang beredar, Ikatan Raka Raki Jawa Timur mengeluarkan pernyataan resmi pada 8 Agustus 2026. Dalam pernyataan tersebut, organisasi menyatakan sikap tegas terhadap segala bentuk dugaan kekerasan seksual.

“Kami mengecam segala bentuk tindakan kekerasan, pelecehan, atau penyalahgunaan kekuasaan yang melanggar hukum, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan,” demikian pernyataan Ikatan Raka Raki Jawa Timur melalui akun resmi @rakaraki_jatim.

Organisasi tersebut juga menyampaikan bahwa pihaknya telah membentuk tim independen untuk melakukan penelusuran secara adil dan transparan terhadap dugaan kasus tersebut.

“Kami berkomitmen menindak terduga pelaku sesuai aturan internal yang berlaku, dengan tetap menghormati proses investigasi yang sedang berlangsung,” tulisnya.

Selain itu, Ikatan Raka Raki Jawa Timur menegaskan bahwa keselamatan, pemulihan, dan kerahasiaan identitas korban menjadi prioritas utama. Mereka juga membuka saluran pelaporan bagi korban maupun saksi yang memiliki informasi terkait kejadian serupa.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi dari aparat penegak hukum terkait adanya laporan resmi atas dugaan kasus tersebut. Proses klarifikasi dan penelusuran masih berlangsung.

Media ini masih berupaya menghubungi pihak-pihak terkait, termasuk terlapor, untuk memperoleh keterangan lebih lanjut guna memastikan keberimbangan informasi.

Kasus ini menjadi perhatian publik dan mengingatkan pentingnya penanganan dugaan kekerasan seksual secara serius, profesional, serta mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyampaian informasi kepada publik.