SURABAYA, bloknesia.net – Prestasi membanggakan datang dari mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR). Izzati Marcellya Rizky H P berhasil meraih juara tiga dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Timur 2026 pada cabang lomba lukis. Kompetisi tersebut digelar pada Minggu (12/7/2026) di Lapangan GOR Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.

Keberhasilan Izzati membuktikan bahwa bakat seni tidak terbatas pada mahasiswa yang menempuh pendidikan di bidang seni. Meski berasal dari latar belakang psikologi, ia mampu menunjukkan kualitas karya yang bersaing di tingkat daerah.

Izzati mengaku bersyukur atas pencapaiannya, meskipun awalnya ia menargetkan posisi kedua. Terlebih, persiapannya tergolong singkat karena harus menempuh perjalanan dari Yogyakarta sehari sebelum lomba berlangsung.

“Persiapan aku cukup singkat. Kebetulan aku ikut lomba ini dari perjalanan panjang dari Yogyakarta tepat pada malam sebelum kompetisi mulai. Alhamdulillah masih diberi kemenangan,” ujarnya.

Dalam lomba tersebut, Izzati mengusung karya lukis yang sarat makna tentang kondisi budaya Indonesia di tengah arus modernitas. Lukisannya menampilkan ember bertuliskan “HERITAGE: 10 GIGA” sebagai simbol warisan budaya yang kini cenderung hanya disimpan layaknya data digital, bukan lagi dihidupi dalam keseharian.

Elemen lain seperti topeng, kain batik yang menjuntai, gulungan naskah bertuliskan berbagai daerah, serta canting batik merepresentasikan identitas, tradisi, pengetahuan, dan kreativitas budaya Nusantara yang mulai terpinggirkan.

Selain itu, latar dinding seng berkarat menggambarkan kerasnya perubahan zaman. Sementara cahaya yang menembus celah menjadi simbol harapan bahwa budaya masih dapat bertahan melalui kreativitas dan kepedulian generasi muda. Kehadiran lilin yang tetap menyala semakin menegaskan bahwa sekecil apa pun upaya pelestarian, budaya akan terus hidup jika dijaga dan diwariskan.

Menariknya, proses pembuatan lukisan tersebut berlangsung spontan tanpa sketsa awal. Hal ini terjadi karena Izzati tidak membawa perangkat maupun kertas untuk membuat rancangan.

“Aku tadi kebetulan langsung mewarnai. Biasanya kan buat sketsa dulu, tapi ipadnya nggak sengaja aku tinggalin di kos. Jadi mau nggak mau langsung warna di kanvas,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Izzati menyebut ajang ini menjadi pengalaman perdana dalam lomba lukis murni. Selama ini, ia lebih aktif berkarya di bidang kaligrafi.

“Perlombaan ini menjadi pengalaman tersendiri untuk aku terus berkarya ke depannya,” imbuhnya.

Sebagai penutup, Izzati memberikan pesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu menampilkan bakat yang dimiliki. Menurutnya, keberanian mencoba menjadi kunci untuk membuka peluang kesuksesan.

“Selagi ada kesempatan, coba saja. Kita nggak akan tahu apakah rezeki kita ada di sana atau tidak. Dan kemampuan itu bisa diasah, tidak murni harus dari bakat sejak lahir,” pungkasnya.